Bodoh level dasar…..
Naip memang……! berharap sesuatu yang (diharapkan) akan membuat bahagia, ternyata malah membuat kita terlihat sangat bodoh.
Terbersit keinginan untuk bertemu seseorang yang pernah hilang dari pandangan hampir berabad-abad lamanya (sempat meminta pada Allah, agar diijinkan bertemu satu kali lagi saja…he…he….mungkin…karena permintaannya hanya sekali, ya Allah mengabulkannya hanya sekali!!! Alhamdulillah….terkabul). Kaget…..????… ya lah ! mendengar namanya disebut sebagai peserta yang datangnya paling tepat waktu (ga aneh…! memang kebiasaan lamanya untuk on time tidak berubah).
Ada kekhawatiran dia tidak mengenal aku dan kekhawatiran aku tidak bisa menahan diri untuk menyapanya…..he…he….benar saja….! aku tak dapat menahan diri untuk tidak menyapanya. Setelah makan siang, ketika akan memasuki sesi berikutnya, ku beranikan diri untuk menghampiri dia dimejanya.
“Apa khabar…” sambil kusodorkan tanganku…(sok akrab!).
“….oh….ini teh Bu Di….!” katanya sambil tersenyum sinis… Plak…! wajahku serasa ditampar olehnya…aku tersenyum dan berusaha wajar kembali ke tempatku.Ternyata….dia memang tidak mengenalku…. (ternyata benar satu dalil yang mengatakan bahwa : “….Aku (Allah SWT) adalah sebaik-baik sangkaan umat-KU…”
Ya Allah…..sombong sekali manusia itu! tidak adakah sedikit keramahan di wajahnya kecuali senyum sinis…. Aku berharap ada teguran atau minimal senyum ke arahku…semuanya menguap…! (mungkin malu dilihat “orang” kenal dengan perempuan bodoh seperti aku, mungkin….dia hanya mau bergaul dengan teman temin yang lebih seronok n tampil wah di setiap kesempatan, mungkin dia memang sudah melupakanku, meski dulu kita sempat berada di persinggahan yang sama, mungkin…..mungkin….mungkin…..atau malah mungkin dia sudah mengalami penurunan selera dalam standar menentukan seseorang yang harus dekat dengannya?
Aku….?! apa setelah senyum sinisnya punya keberanian untuk menyapanya kembali? Otakku bilang….”jangan sampai aku dipermalukan lagi olehnya, yang malah nanti akan melemparkanku ke level orang terbodoh sedunia……”
Hari kedua, kukeluarkan ungkapan hati lewat catatan di 3 helai kertas, sebetulnya ada niatan untuk kusampaikan padanya, tapi …..kembali kuurungkan. Aku takut, dia kan membuang semuanya begitu saja seperti puntung rokok. Ku bawa 3 helaiku kembali ke rumah, dan…… ku putuskan untuk membakarnya.
Ok…..ga masalah! semuanya Allah yang mengatur…..setiap pertemuan, perpisahan,atau apapun…itu namanya, (ku coba untuk menghibur hatiku). Aku menyerah….! hanya ada satu nama yang ku ingat pada kesempatan itu, ……..aku bertemu Ayu.
Tulisan dari Seorang Sahabat tentang Pemimpin
Sore itu, anakku pulang sekolah dengan mulutnya yang maju ke depan (manyun) dan muka yang dilipat sepuluh. Hi hi hi lucu juga melihat raut mukanya seperti itu.
Begitu datang, ia langsung “melempar” tas sekolahnya dan masuk ke dalam pangkuanku sambil mengeluh. “Aku kesal sama ketua kelasku, masa baru saja jadi ketua kelas dia tiba-tiba memarahiku di depan teman-teman, hanya karena aku tak sengaja menyenggol tempat pinsilnya sampai jatuh ke lantai. Padahal aku kan sudah minta maaf…….”
Rupanya anakku belum puas. Kata-kata ketidakpuasannya terus meluncur bak senapan mitraliur. Ia merasa diperlakukan tidak adil. Mungkin karena selama ini aku mengajarinya untuk menegur kesalahan seseorang secara pribadi, tidak di depan orang banyak, agar yang ditegur tidak merasa malu.
Empat menit sudah berlalu, dan akhirnya emosi anakku berakhir juga. Ia kehabisan kata-kata dan terdiam. Tapi itu pun tak lama. Anakku melihatku dengan ujung alis yang masih mengangkat dan bertanya, “Menurut ibu, bagaimana ….?”
“Anakku, bahwa setiap orang adalah pemimpin, itu benar. Tapi untuk menjadi pemimpin bagi orang lain, maka diperlukan pembelajaran yang lebih. Seorang bijak berkata, “Apabila dalam hal dunia (kekayaan, pangkat, kedudukan), seseorang mendapatkan sesuatu yang lebih dari kapasitas dirinya, maka sikapnya akan berubah dengan yang tidak disukai oleh orang lain.
Selaras dengan kata mutiara di atas, seorang sufi juga berkata, “Barang siapa jabatannya di atas kapasitas pribadinya, maka dia akan sombong dengannya, dan barang siapa jabatannya di bawah kapasitas pribadinya, maka dia akan merendahkan diri karenanya.
Ingatlah itu anakku, semakin tinggi ilmu dan kebijakan seseorang, maka ia akan semakin merendah. Sementara itu, semakin rendah ilmu dan kebijakan seseorang, maka ia akan tinggi hati.
Jika engkau akan menjadi pemimpin bagi yang lain, maka engkau pun harus belajar kebijakan. Bukan tidak mungkin ada salah satu anggota-mu yang tingkahnya menyebalkan. Padahal, bukan tidak mungkin mereka melakukan itu semua karena mereka tidak tahu. Tidak perlu kau marahi mereka. Untuk menyembuhkan penyakit mereka, engkau hanya perlu menegur mereka dengan cara yang baik tanpa menyakiti hati mereka. Jika mereka menyadari kesalahan mereka, tentu sikap menyebalkannya pun akan sembuh. Bukankah begitu, anakku ?”
Anakku, tampak malu-malu mendengarkan ucapanku. Mungkin ia baru menyadari bahwa di balik amarahnya, terdapat nafsu yang membisikan sehingga ia sendiri tidak mampu bersikap bijak, terhadap sikap ketua kelasnya yang menyebalkan.
“Ah, aku gagal lagi mendeteksi nafsu-ku lagi. Ibu…. bagaima sih agar nafsu bisa dengan mudah dikenal ? Karena setiap kali ku kenal satu bentuk nafsu, maka besok hari ia mendatangiku kembali dengan wajah yang lain.
Ah, aku mau minta maaf lagi sama ketua kelasku besok……, karena aku tak mampu mengenali nafsuku dan tak mampu menahan amarahku.”
Ah, segala puji bagimu ya Allah. Engkau menghantarkan anakku kepada sebuah kasus pengenalan hawa nafsu, dan membimbing langkahnya kepadaku untuk mendapatkan jawabannya.
Semoga engkau menjadi amir (pemimpin) yang bijak anakku. Amin
271009
Tidurlah Cintaku ….. kenanglah dalam mimpimu kisah dari seserpih waktu, dari suatu masa, lihatlah aku berjalan membawa luka dan lebam masa silam. Merenung sekali waktu dalam kesendirian setelah cinta terkoyak taring prasangka. Membiarkan kegelapan masa lalu melindap bagai kenangan, meresap ke ceruk pikiran menjelma bagai kelopak kesadaran. Suatu waktu nanti, ketika aku dan kau sudah tidak ada lagi, kisah yang kusampaikan padamu ini akan tinggal abadi di langit hati.
021009
Assallamu’alaikum
mungkin kau pernah mendengar atau membaca cerita ini….
Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semuamasalahnya.
Pak tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama, lalu Ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan,
“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya “, ujar pak tua
“Pahit, pahit sekali “, jawab pemuda itu sambil meludah ke samping.
Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya.
Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yg tenang itu. Sesampai disana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.
“Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya, “Bagaimana rasanya ?”
“Segar”, sahut si pemuda.
“Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?” tanya pak tua
“Tidak, ” sahut pemuda itu
Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata: “Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama..
Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya.Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yg kamu dapat lakukan; Lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu”.
Pak tua itu lalu kembali menasehatkan: “Hatimu adalah wadah itu; Perasaanmu adalah tempat itu; Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian. Karena Hidup adalah sebuah pilihan, mampukah kita jalani kehidupan dengan baik sampai ajal kita menjelang? Belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik”.
090909
Sepisau kenangan menari kegirangan.
Aku ditikam sepi, ditikam rindu … menusuk hingga ke ulu sampai puncak nyeri…… rindu ini membuat luka.
030909
Negeri itu dilangit hatiku,
Seorang musyafir menunjukan petanya, suatu ketika. Tak kutahu namanya
Ia berdiri di gerbangnya, berdiri lama disitu, melukis tanah tandus dengan air matanya.
210809
Jangan kau ajari cara melupakanmu.
Aku lebih tau itu.
Hari-hariku lebih fasih mengeja rasa itu.
Sekuat apapun kumencoba, tetap saja ….. aku rindu
Tidak Muda Lagi
Pernah muda …. sama g yah dengan tidak muda lagi?! Permainan kata yang sebetulnya sih sama-sama artinya adalah … tua. Makna dari itu menyadarkan aku akan usia . Senin kemarin, tidak ada angin tidak ada hujan, aku harus mangkal di kamar mayat sebuah rumah sakit daerah. Pagi, Sebelum berangkat ke acara perpisahan, aku menerima telepon, bahwa seorang kerabat jauh mengalami kecelakaan lalulintas di sekitar tempat tinggalku. Aku selesaikan urusan ku sebentar di sekolah, penerima tamu belum datang sementara tamu sudah berdatangan, ku panggil seorang staf TU untuk membantu di meja penerima tamu, Konsumsi belum siap, ku instruksikan agar minimalnya konsumsi untuk tamu undangan dulu yang sudah diletakkan di tempat khusus tamu (keun we yang untuk lainnya mah, nanti agak siangan juga g pa-pa), membuat konsep untuk sambutan ketua pelaksana n ketua OSIS, menyiapkan anggaran untuk sewa tenda n sound juga alat band, ijin kepala kalo aku mo nengok dulu korban laka lintas di RS.
Berangkat tanpa punya pikiran terburuk, membuatku lebih rileks melangkahkan kaki. Sampai di UGD, aku bertanya pada Pa Sapam eh satpam, dimana korban kecelakaan lalulintas dirawat. Si satpam mengajak aku ke suatu tempat yang aku pikir adalah ruang rawat inap. Setelah dekat sang satpam memegang bahuku, sambil bilang, “Ibu yang kuat yah!” aku bengong, ternyata pas mata ku naik ke atas sedikit, terbaca tulisan yang terpampang di atas ruangan tsb, tertulis, “Kamar Mayat”.
Deg…. aku langsung paham. Sepertinya yang terburuk sudah terjadi. Diam sejenak tidak berani melangkah untuk beberapa saat. Aku harus yakinkan apakah jenazah tersebut memang kerabat ku atau bukan, akhirnya kuputuskan untuk masuk melihatnya. Subhanallah …… kutemukan sosok tubuh yang kukenal, meski wajah penuh memar (kepalanya mah sepertinya eumeur, aku tidak berani menyentuhnya), mulut dengan rahang yang patah dan tidak berhenti mengeluarkan darah, hidung penuh darah, dan mata yang sudah menghijau karena benturan yang cukup keras. Nyel ….. kukuatkan hati, juga perasaanku agar aku tidak pingsan di ruang itu. Aku meyakinkan petugas bahwa korban memang benar kerabatku.
Aku keluar ruang mayat dengan perasaan campur aduk. Kaget, bingung, sedih, tidak percaya, dlsb bercampur jadi satu. Diusianya yang masih sangat belia, 17 tahun dia harus pergi. Kepergiannya bertepatan dengan kepergian adiknya yang malamnya telah lebih dulu dipanggil Sang Maha Pencipta. Jam 2 malam dia mendapat berita bahwa adik yang disayanginya telah di panggil sang Pencipta, jam 4 dini hari dia berangkat dari Depok menuju kotanya, dengan tujuan ingin menyaksikan pemakaman adik terkasihnya. Tapi Allah berkehendak lain. Kendaraan yang dikendarainya menubruk sebuah mobil sedan preman yang dikendarai oleh seorang polisi. Dug… dia menubruk belakang mobil, lalu terlempar ke sisi ruas kanan jalan, sementara dari arah berlawanan melaju mobil hijau kavaleri yang akan mengambil pasukannya setelah melaksanakan kegiatan AMD. Jadilah dia membentur mobil besar tersebut sebelum akhirnya terlempar dengan keras ke aspal jalan.
Nyawanya tidak tertolong. Hari itu, aku menyaksikan langsung 2 jasad kaka beradik yang dikubur bersebelahan di pemakaman. Innalillahi wainaillaihi rojiun.
Kematian tidak akan salah menjemput seseorang, tidak melihat usia, kekayaan, harkat juga martabat, jenis kelamin, cakep atau tidak, cerdas atau tidak, sakit atau waras, juga hal-hal lain.
Seseorang mengingatkan usiaku yang semakin bertambah. Manusia semakin tua akan semakin lemah …segala kebanggaan fisik dimasa muda tinggal kenangan … yang ada kini adalah tubuh yang renta dengan kemampuan yang jauh melemah. Kusadari aku belum siap jika harus mengucapkan selamat tinggal pada raga, seandainya ruh harus meninggalkannya. Rasa takut yang muncul ketika kematian, bukanlah rasa takut berpisah dengan sanak saudara, harta benda juga kekayaan yang dimiliki, tapi rasa takut berhadapan dengan Allah, Yang menciptakan aku, karena Aku belum bisa mempertanggungjawabkan semua perbuatan dan amal yang telah kuperbuat selama Allah memberikan kehidupan untukku.
Doaku pada-Nya, Semoga Allah Swt memberikan kesempatan padaku untuk bertobat n menebus semua kesalahan serta dosa yang kuperbuat dimasa lalu. Semoga di sisa usiaku, Allah Swt melindungi dan menjagaku untuk khusnul khotimah. Amin.
Terimakasih, karena kau mengingatkan aku sudah tidak muda lagi.
Bebal
Entah bebal atau apa namanya diriku? atau mungkin karena aku tidak pandai mengemas pertanyaan menjadi sesuatu yang membuat orang merasa nyaman menangkap maksudku? Entah lah ……???????? Yang aku harus paham, frame ku berbeda dengan orang lain. Yang sedang kucoba tanamkan dalam-dalam keotakku adalah bahwa aku tidak menimbulkan efek apapun pada siapapun!
Tapi akhirnya jadi muncul pertanyaan So …what I do? Apa gunanya hidup? Jika dalam keadaan lemah (doa) sekalipun tak bisa menimbulkan efek apapun. Benarkah?
Aku memang bebal, Aku akan tetap berdoa, meski seluruh dunia bilang itu sia-sia.