Tulisan dari Seorang Sahabat tentang Pemimpin

January 4, 2010 at 5:14 pm (Uncategorized)

Sore itu, anakku pulang sekolah dengan mulutnya yang maju ke depan (manyun) dan muka yang dilipat sepuluh. Hi hi hi lucu juga melihat raut mukanya seperti itu.
Begitu datang, ia langsung “melempar” tas sekolahnya dan masuk ke dalam pangkuanku sambil mengeluh. “Aku kesal sama ketua kelasku, masa baru saja jadi ketua kelas dia tiba-tiba memarahiku di depan teman-teman, hanya karena aku tak sengaja menyenggol tempat pinsilnya sampai jatuh ke lantai. Padahal aku kan sudah minta maaf…….”
Rupanya anakku belum puas. Kata-kata ketidakpuasannya terus meluncur bak senapan mitraliur. Ia merasa diperlakukan tidak adil. Mungkin karena selama ini aku mengajarinya untuk menegur kesalahan seseorang secara pribadi, tidak di depan orang banyak, agar yang ditegur tidak merasa malu.
Empat menit sudah berlalu, dan akhirnya emosi anakku berakhir juga. Ia kehabisan  kata-kata dan terdiam. Tapi itu pun tak lama. Anakku melihatku dengan ujung alis yang masih mengangkat dan bertanya, “Menurut ibu, bagaimana ….?”
“Anakku, bahwa setiap orang adalah pemimpin, itu benar. Tapi untuk menjadi pemimpin bagi orang lain, maka diperlukan pembelajaran yang lebih. Seorang bijak berkata, “Apabila dalam hal dunia (kekayaan, pangkat, kedudukan), seseorang mendapatkan sesuatu yang lebih dari kapasitas dirinya, maka sikapnya akan berubah dengan yang tidak disukai oleh orang lain.
Selaras dengan kata mutiara di atas, seorang sufi juga berkata, “Barang siapa jabatannya di atas kapasitas pribadinya, maka dia akan sombong dengannya, dan barang siapa jabatannya di bawah kapasitas pribadinya, maka dia akan merendahkan diri karenanya.
Ingatlah itu anakku, semakin tinggi ilmu dan kebijakan seseorang, maka ia akan semakin merendah. Sementara itu, semakin rendah ilmu dan kebijakan seseorang, maka ia akan tinggi hati.
Jika engkau akan menjadi pemimpin bagi yang lain, maka engkau pun harus belajar kebijakan. Bukan tidak mungkin ada salah satu anggota-mu yang tingkahnya menyebalkan. Padahal, bukan tidak mungkin mereka melakukan itu semua karena mereka tidak tahu. Tidak perlu kau marahi mereka. Untuk menyembuhkan penyakit mereka, engkau hanya perlu menegur mereka dengan cara yang baik tanpa menyakiti hati mereka. Jika mereka menyadari kesalahan mereka, tentu sikap menyebalkannya pun akan sembuh. Bukankah begitu, anakku ?”
Anakku, tampak malu-malu mendengarkan ucapanku. Mungkin ia baru menyadari bahwa di balik amarahnya, terdapat nafsu yang membisikan sehingga ia sendiri tidak mampu bersikap bijak, terhadap sikap ketua kelasnya yang menyebalkan.
“Ah, aku gagal lagi mendeteksi nafsu-ku lagi. Ibu…. bagaima sih agar nafsu bisa dengan mudah dikenal ? Karena setiap kali ku kenal satu bentuk nafsu, maka besok hari ia mendatangiku kembali dengan wajah yang lain.
Ah, aku mau minta maaf lagi sama ketua kelasku besok……, karena aku tak mampu mengenali nafsuku dan tak mampu menahan amarahku.”
Ah, segala puji bagimu ya Allah. Engkau menghantarkan anakku kepada sebuah kasus pengenalan hawa nafsu, dan membimbing langkahnya kepadaku untuk mendapatkan jawabannya.
Semoga engkau menjadi amir (pemimpin) yang bijak anakku. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.